Mewujudkan Layanan Ambulance 118

Bismillah,

AmbulancePembaca yang budiman
Posting kali ini berawal dari sebuah “rasan-rasan” (discussion group) menggunakan fasilitas chating di facebook bersama salah satu sahabat kami..😀 (Mas Munif, red) bahwa sudah terbiasa kita melihat apabila ada kecelakaan lalu lintas di kota kita ini, semua orang akan berkerumun dan menjadi penonton sedang si-korban dibiarkan dalam keadaan kritis yang pada hakikatnya berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan jiwanya. Tidak adanya kesiapan kita dalam menghadapi situasi darurat, misalnya persoalan kecelakaan lalu lintas inilah yang mendasari diskusi kami.

“I have a dream…” demikian tulisan sahabat kami, di Kabupaten Sragen nantinya bisa diwujudkan pelayanan Ambulance 118 yang sustainable. “Tapi Mas, bukankah kita telah memilki Crisis Center semacam Save Community Programme”, jawab saya. Benar akan tetapi alangkah indahnya, apabila itu semua disinergikan layaknya film luar negeri 911. Pertama; Proses ini adalah suatu proses capacity building yang melibatkan multi sektoral dan multi disiplin yang seharusnya dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen dengan entry point-nya PMI untuk mengkordinasikan dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Dinas Perhubungan, Kepolisian, serta Jasa Raharja.

Dengan demikian persoalan kelembagaannya perlu dilegitimasikan dalam bentuk komisi atau konsorsium Pelayanan Gawat Darurat Kabupaten. Dengan melibatkan multi sektoral yang masing-masing mempunyai prosedur tetap tersendiri dalam mengatasi setiap segmen peristiwa dari suatu kejadian gawat darurat, perlu juga disinkronisasikan agar tidak saling berbenturan, sehingga terbentuk suatu sistem pelayanan kegawat-daruratan terpadu di Kabupaten Sragen. Persoalan Capacity Building (kelembagaan, sistem dan individu) pelayanan Ambulance Gawat Darurat ini tidaklah se-sederhana seperti contoh diatas, ketiga komponen haruslah terlaksana simultan dan akan mengalami proses transisi menuju performa yang lebih baik.
Ditengah – tengah diskusi, saya juga bergabung dengan dr WP Budi Setyawan, SpB (Dokter Spesialis Bedah RSUD Sragen) yang malam itu juga on-line.. dan beliau menyoroti perihal teknikal skill, termasuk pelatihan crew ambulance-nya. Maka lengkap sudah materi diskusi kami malam itu. “Kalau perlu, kita simulasikan ditengah kota serta disinkronisasikan dengan prosedur tetap dari semua stake holder” tambah beliau..

Akhir kata, saya tutup dengan satu pantun,
Pitik walik nuthuli gabah…ilmu sithik dadi berkah..😀

  1. saya dari rs caruban mungkin bisa berbagi, sebaiknya diawali dari tim ambulan anda, apakah sudah punya standar operasional psrosedur yang disepakati bersama. saya sendiri jg perawat ambulan, sekaligus koordinator tim. sblm kita berkoordinasi dgan lintas sektoral . kita buat standar antara tim dinkes ataupun rs terdekat….. semoga bermanfaat, tl jwbn kirin di fc book ya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: