SELAMAT & SUKSES MUNAS PPNI VIII – BALIKPAPAN 2010

Blog PPNI KOMDA RSUD SRAGEN mengucapkan SELAMAT & SUKSES atas terpilihnya Ibu Dewi Irawati, Ph.D di MUNAS VIII PPNI Balik Papan yang berlangsung dari tanggal 27-30 Mei 2010, untuk masa jabatan priode 2010-2015 sebagai Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Setelah melalui tahapan-tahapan proses pengajuan bakal calon ketua (balon) dan penentuan calon ketua, akhirnya yang maju dalam proses pemilihan ketua umum PPNI periode 2010 – 2015 adalah Ibu Dewi Irawati, PhD dan Ibu Prayetni, SKp., M.Kep dengan perolehan suara pengajuan calon dari setiap propinsi, Ibu Dewi 19 suara dan Ibu Prayetni 12 suara. Dari kedua calon yang diajukan dilakukan proses pemungutan suara dari seluruh perwakilan daerah yang memiliki hak suara dengan menunjukkan surat mandat yang diberikan oleh pengurus Propinsi asal. Proses pemungutan suara berlangsung hingga dini hari, dan seluruh peserta MUNAS mengikuti dengan setia untuk memilih calon yang akan memimpin perawat Indonesia lima tahun kedepan.
Baca lebih lanjut

HUT PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA KE 36 TAHUN 2010 PPNI KOMDA RSUD SRAGEN

A. LATAR BELAKANG
Perawat merupakan profesi yang mulia, yang merupakan profesi dan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan rasa empaty yang tinggi. Tidak mudah dan tidak semua orang bisa memiliki kesabaran dalam menghadapi dan melayani orang yang menderita.
Salah satu peran aktif dari perawat dalam mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan adalah dengan dibentuknya suatu organisasi profesi PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) sebagai wadah bagi profesi perawat yang diharapkan bisa mengakomodir perawat dan juga masyarakat akan pelayanan kesehatan terutama di bidang keperawatan.
Dan tanggal 17 Maret 2010 kita peringati sebagi Hari jadi PPNI yang genap ke 36 tahun, usia yang boleh dibilang cukup mantap, dewasa dan matang sebagai media pengembangan profesi perawat bila diibaratkan dengan usia manusia.
Dalam rangka memperingati Hari jadi PPNI ke 36 Tahun 2010 maka PPNI KOMDA RSUD SRAGEN bermaksud menyelenggarakan berbagai kegiatan- kegiatan, diantaranya adalah kegiatan bhakti sosial, aksi simpatik dan kegiatan olahraga bersama. Dengan harapan, melalui kegiatan tersebut dapat mempererat tali persatuan dan persaudaraan khususnya diantara sesama anggota profesi perawat PPNI KOMDA RSUD SRAGEN.

Baca lebih lanjut

Perawat Indonesia Disukai Negara Luar

Vera Farah Bararah – detikHealth
Jumat, 19/02/2010 16:04 WIB
Batam, Perawat-perawat kesehatan asal Indonesia yang bekerja di luar negeri di kenal ramah dan sangat perhatian pada pasien. Tak heran banyak negara asing yang menginginkan perawat asal Indonesia.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan adanya animo yang besar ini maka Indonesia akan mengirim lagi perawat-perawat kesehatan untuk bekerja di luar negeri.

“Mungkin karena perawat-perawat dari Indonesia lebih ramah, care pada pasien serta interaksi dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya lebih baik sehingga perawat dari Indonesia lebih diminati,” ujar Menkes disela-sela acara peresmian Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kesehatan Batam ini terletak di Jalan Marina City Tanjung Uncang, Sekupang kota Batam, provinsi Kepulauan Riau, Jumat (19/2/2010).
Baca lebih lanjut

Kualitas Pelayanan Keperawatan

Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi, MSi, Psikolog CH
Beralamat di Gumpang Kartasura, mengajar di kedokteran UMS dan tentunya fakultas pikologi UMS. Bidang minat di Psikologi klinis fokus ke masalah psikologi transpersonal dan Spiritual Islam.

1. Pengertian kualitas pelayanan keperawatan
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan yang berkualitas, banyak hal yang perlu dipahami, salah satu diantaranya yang dinilai mempunyai peranan yang amat penting adalah tentang apa yang dimaksud dengan kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh banyak institusi kesehatan hampir selalu dapat memuaskan pasien, maka dari itu sering disebut sebagai pelayanan kesehatan yang berkualitas. Salah satu definisi menyatakan bahwa kualitas pelayanan kesehatan biasanya mengacu pada kemampuan rumah sakit, memberi pelayanan yang sesuai dengan standar profesi kesehatan dan dapat diterima oleh pasiennya. Menurut Azwar (1996) kualitas pelayanan kesehatan adalah yang menunjukkan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Baca lebih lanjut

Remunerasi Perawat (bag 2)

http://nursinginformatic.wordpress.com
Penulis: Jason
Lulus S1 Keperawatan di PSIK-FK UGM Yogyakarta 2002
saat ini di Manajemen Keperawatan RS Banyumas.

Bagaimana cara penghitungan harga indek/poin dan jasa langsung dalam pembagian jasa pelayanan bagi perawat?

Bila kebijakan rumah sakit telah memberikan porsi tersendiri bagi komunitas perawat dalam jasa pelayanan, maka penghitungan indek akan cukup mudah dan transparan, karena porsi yang diberikan oleh manajemen rumah sakit sudah jelas.

Sebagai simulasi begini.

Pada bulan Januari 2010, dari seluruh jasa pelayanan yang dihasilkan rumah sakit untuk dibagikan kepada seluruh karyawan sebesar 2 milyar. Dan berdasarkan kebijakan, umpamanya profesi perawat mendapatkan 33% dari 2 milyar. Maka uang yang dibagikan untuk seluruh perawat sebesar Rp. 666.000.000,-

Dari Rp.666.000.000,- dibagi menjadi dua, yaitu untuk Jasa Langsung dan Jasa Tidak Langsung. Prosentase Jasa Langsung dan Jasa Tidak Langsung disepakati bersama di komunitas perawat, apakah 20%:80% atau 30%:70% disesuaikan dengan selera masing masing.

Taruhlah kita ambil 30% untuk Jasa Langsung dan 70% untuk Jasa Tidak Langsung. Penghitungan indek/poin digunakan untuk membagi Jasa Tidak Langsung. Sehingga yang dibagi dengan indek/poin sebesar Rp.666.000.000 x 70% = Rp.466.200.000,-
Baca lebih lanjut

Remunerasi Perawat (bag 1)

http://nursinginformatic.wordpress.com
Penulis: Jason
Lulus S1 Keperawatan di PSIK-FK UGM Yogyakarta 2002
saat ini di Manajemen Keperawatan RS Banyumas.

Penerapan BLU atau BLUD bagi rumah sakit di Indonesia, berefek pada remunerasi bagi pegawai di institusi tersebut, tidak terkecuali perawat sebagai sebuah profesi yang mandiri dan mesti selayaknya juga dihargai. Sehingga pemahaman tentang remunerasi juga mestinya dikuasai oleh perawat, minimal di tingkat bidang perawatan atau komite perawatan.

Ketika tidak ada perawat yang mau intens memikirkan masalah ini, maka lagi lagi, profesi perawat hanya akan dijadikan sebagai pelengkap penderita dalam urusan remunerasi.

Prinsip prinsip universal dalam remunerasi, juga mestinya ditujukan untuk profesi yang 24 jam mendampingi pasien ini. Semacam keadilan, keterbukaan, tanggung jawab, beban kerja dll, menjadi pertimbangan pokok dalam pembagian jasa pelayanan.
Baca lebih lanjut

Gaji Perawat di Luar Negeri Rp 60 Juta Per Bulan, Mau?

Senin, 11 Mei 2009 | 15:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Sekalipun Indonesia belum mempunyai UU Keperawatan, ternyata sudah banyak perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri, bahkan gajinya bisa mencapai Rp 60 juta per bulan.

“Soal skill kita tidak kalah dengan perawat asing. Paling soal bahasa dan upgrading keperawatan bidang-bidang tertentu,” kata Direktur Kerjasama Luar Negeri Kawasan Asia Pasifik dan Amerika Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Haposan Saragih saat Jumpa Pers Hari Kebangkitan Perawat Indonesia di Jakarta, Senin (11/5). Jumpa pers itu untuk menyambut Hari Perawat Dunia sekaligus pencanangan Hari Kebangkitan Perawat Indonesia esok hari. Menurut Haposan, sampai saat ini kebutuhan dunia terhadap perawat semakin meningkat. Berikut beberapa negara yang membutuhkan perawat Indonesia, di antaranya Jepang yang membutuhkan 1.000 orang untuk dua tahun (2008-2009), Amerika (1 juta perawat), Kanada (hampir 1 juta orang), dan Inggris (3.000 perawat).

Bagi perawat yang berminat bekerja ke luar negeri, tambahnya, tidak akan mengeluarkan biaya banyak. Sebagai contoh, ia menjelaskan soal proses yang harus dilalui jika ingin menjadi perawat di Jepang. Biaya yang diperlukan Rp 1.100.000 untuk paspor dan pelatihan awal di sana. Tesnya hanya wawancara yang dilakukan oleh perwakilan Jepang di Indonesia. Soal bahasa, para perawat belajar di Indonesia selama 4 bulan dan 2 bulan di Jepang. “Wawancaranya memakai bahasa Indonesia, ada transleter-nya,” jelas Haposan.

Gaji
Terkait dengan gaji yang diterima para perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Prof Achir Yani S Hamid, MN, D.N., Sc menyampaikan, di Kuwait perawat Indonesia yang berjumlah 700-an gajinya berkisar Rp 20 juta- Rp 22 juta dengan biaya hidup ditanggung.
Baca lebih lanjut